Friday, September 16, 2016

LIFE IS LIKE A CUP OF TEA : JUST A CUP




___
Honestly, kadang saya lupa kalau Allah bisa saja mengambil saya kapanpun Allah mau. Saya mengira saya pasti masih punya banyak waktu untuk mengerjakan apa-apa yang saya ingin tunda sekarang, ya belajar tahsin, ya puasa senin kamis, ya sedekah, ya beberes rumah, apaa saja yang saya kira "bias saya kerjakan nanti", "kapan-kapan". Nah, kelalaian saya bahwa Allah pemilik hidup saya itu begitu itu salah satu dampaknya, saya jadi sembrono. Tidak punya prioritas. Padahal saya sudah berulang kali baca bahwa hidup kita hanya seperti "mampir ngombe", namanya mampir itu jarang ya yang sampai bertahun-tahun, mampir itu normalnya ya sak deg, sak neg, sebentar bangets.

Sadar ga siy, tau tau saja sudah mau kepala tiga, tau-tau si Kakak sudah mau 3 tahun, tau tau dan tau tau yang lain. That's why saya percaya bahwa orang yang cerdas adalah orang selalu mengingat mati. Tapi, percuma saja ingat mati tapi ga percaya sama hisab di akhirat. Maksud saya, selain ingat suatu saat bakal mati, kita juga harus ingat bahwa setelah mati ada alam kubur dan alam akhirat yang kekal (Ya Allah kalau ingat ini rasanya gimana ya, takut masuk neraka saya T,T). Dengan mempercayai keduanyalah maka kita akan punya rem untuk segala nafsu mmbab buta.

Ujian setiap orang beda-beda. Tapi pasti Allah uji. Karena dengan ujianlah Allah akan melihat siapa yang paling baik amalnya. Mangkanya wang sinawang itu boleh asal jangan sampai jadi ga bersyukur atau sebaliknya jadi sombong, Melihat orang lain berbahagia, syukur Alhamdulillah, memberi doa supaya kebahagiaannya berkah. Melihat orang sedih, ikut sedih, dan mendoakan semoga Allah memudahkan. Jangan sebaliknya melihat orang bahagia, kita sedih, melihat orang malah bahagia, eleh eleh, hatinya cupet amat Mak.

Kalau inget minum itu cuma sebentar, pasti kita akan minum dengan baik, karena kita tau perjalanan kita selanjutnya masih panjang. Dunia ini bukan akhir perjalanan kita. Akhiratlah akhir yang kekal abadi.

Dunia ini adalah kefanaan yang segalanya serba sementara, sekarang cantik suatu saat akan tua, sekarang kaya suatu saat akan habis, sekarang pejabat suatu saat akan lengser, sekarag terkenal sewaktu waktu bias tersandung. Oleh karena itu jangan memasukan ke dalam hati segala sesuatu yang temporer. Kejarlah akhiratmu maka dunia akan menghampirimu. Kalau belum percaya dengan kalimat barusan berarti ada unsur yang kurang dalam pemahaman kita terhadap ajaran Allah. Allah sudah berjanji akan mengingat kita di kala sempit, jika kita bias, jika kita mampu, jika kita terbukti, mampu dan mau mengingat Allah di kala lapang. Sedih kemudian inget Allah, its very normal, senang dan masih ingat Allah, its very rare, and even sometime, DIFFICULT.

So, baik-baiklah mengambil bekal di waktu yang super sebentar ini. Jangan siakan dengan hal-hal yang tidak menambah mafaat untuk akhirat kita. Tepe tepe sama non mahrom? Yakin Allah suka? Ngarep iditepe-tepein non mahrom? Yakin kamu pantas untuk dibegitukan? Ambil uang lembur padahal ga lembur? Yakin kamu mau naroh makanan haram di darah kamu? Yakin tetep duduk di bangku kereta padahal ada nenek-nenek di hadapanmu? Be conscious. Sadar. Melek. Get up!

Live is just like you drink a cup of tea out of your home. You should finish it. And you should come back home.

Salam,

Umi Yumna