Seni Membuang : Simpanlah Apa yang Membahagiakan

by - 10/10/2017 03:42:00 PM


Meski telah banyak membaca tentang minimalism, rasanya baru kemarin akhirnya menemukan alasan membuang yang benar-benar wow banget. Seperti pernah saya ceritakan di sini, selama 1 tahun terakhir saya mulai menerapkan metode Konmari untuk mendukung keinginan saya menjadi lebih bijak dalam membeli dan menyimpan barang-barang. Saya ingin lebih menghargai barang-barang yang saya beli dan akhirnya lebih menghargai uang yang saya punya.

Membuang (decluttering) adalah cara tepat melepaskan diri dari beban. Tidak hanya beban fisik (materiil), tetapi juga beban psikis.  Memulai membuang benda yang tidak pas di diri kita atau di lingkungan tempat tinggal kita, adalah cara mudah untuk mulai bisa membuang beban psikis kita. Percaya ga percaya. Coba aja ya ~ rasanya bakal lebih lega. Jadi inget, kalau pas yoga, kita diminta untuk menghirup nafas dengan baik dan mengembalikan semuanya ke alam, membuang segala perasaan dan pikiran buruk ke alam, dan membiarkan alam memperbaruinya. Membuang adalah bagian dari seni.

Prinsip Membuang/Decluttering

💚 Pilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan
Gimana caranya siy memilih suatu barang disimpan atau dibuang? Touch it, sentuh barang itu dan rasakan. Emosi apa yang kalian rasakan saat menyentuhnya. Ketika emosi yang muncul adalah rasa senang dan bahagia, keep it. Jika tidak ada rasa apa-apa atau cenderung negatif, throw it out. Marie Kondo membuat pernyataan yang cukup keras tentang kemampuan membuang barang. Ia menganggap bahwa seseorang yang tidak mampu melepaskan barang yang sudah tidak memberikan kegembiraan apa-apa sebagai masalah serius.


Memang dalam memutuskan membuang atau tidak, kebanyakan dari kita melibatkan dua hal, intuisi dan rasionalisme. Sayangnya, seringkali yang menghalangi adalah rasionalisme kita. Misalnya saja saat saya melihat kebaya putih cantik yang saya pakai saat akad 5 tahun lalu. Duh kok sayang ya kalau mau dipindahtangankan, siapa tau suatu saat saya butuh (padahal sizenya sudah tidak muat lagi pemirsa 😪). Terus terlintas juga, masa iya tega banget membuang kebaya bersejarah.  Kembali lagi bahwa yang terpenting adalah bagaimana rasa kita saat menyentuh barang tersebut. Bukan apakah kelak kita akan memakainya atau tidak. 



Konmari menyarankan supaya kita memulai decluttering dari baju, bukan dari benda-benda yang memiliki kenangan. Bukannya beberes malah akhirnya mengenang masa lalu (ehem!) ye kan? Selain itu, pengalaman Konmari -dan saya- menunjukkan bahwa memulai dari memilah baju adalah level yang paling mudah. Berhasil melewati yang termudah biasanya akan membuat kita percaya diri untuk menyelesaikan misi decluttering. Urutan berbenah yang disarankan Konmari adalah : (1) pakaian, (2) buku, (3) kertas, (4) komono/pernak-pernik, dan (5) benda-benda bernilai sentimental. 

💚 Membuang Sampai Tuntas Terlebih Dahulu Sesuai Urutan
Pilahlah hingga tuntas per kategori sesuai urutan. Ada beberapa praktisi berbenah yang menyarankan untuk membuat challenge berbenah, misal 1 benda per hari, atau 3 jam per minggu, dst. Namun, Konmari memilih untuk membuang sampai tuntas terlebih dahulu per kategori. Bener-bener dikumpulin dulu semua baju di seantero rumah (bukan hanya yang di lemari, karena kadang kita menyimpan juga kan di balik pintu atau di box sesepojok rumah? :p), baru kemudian kita pilah. 

Membuang sampai tuntas itu ada filosofinya gaes. Meskipun kelihatannya membutuhkan banyak waktu dan tenaga, tetapi efek kejutnya luar biasa. Efek kejut ini karena hasil beberes yang tuntas bener-bener terasa. Lemari jadi lega dan rapi. Efek kejut yang membuat kita bakal pengen jadi rapi selamanya. Berbeda dengan beberes sedikit-sedikit yang terlihat menyenangkan karena tidak menyita banyak energi dan waktu namun efeknya tidak begitu terasa sehingga berisiko membuat motivasi beberes kita kendur di tengah jalan. So, singsingkan lengan bajumu!

Kalau tidak bisa membuang, bagaimana?
Gara-gara baca buku The Life-Changing Magic Tidying Up karya Marie Kondo saya jadi tau bahwa tidak semua pakaian berperan sebagaimana fungsi pakaian seharusnya. Maksudnya, pakaian kan seharusnya ada kaitannya dengan kebutuhan saat membeli, misal karena kita butuh pakaian untuk kerja, atau untuk menghadiri suatu acara tertentu, atau secara umum untuk menjaga penampilan kita. Sayangnya, ada juga kan pakaian yang kita beli hanya karena sedang diskon? (Apa itu cuma saya ya?) Pas sampai rumah ternyata gaya pakaian itu sama sekali bukan gaya kita sehingga pakaian itu sama sekali tidak pernah kita gunakan semenjak kita adopsi ke lemari kita. Pakaian seperti ini mau dibuang atau mau disimpan? Dibuang sayang, disimpan ga dipakai. So? Say thanks to this clothes, let it go, katakan padanya "Terima kasih karena kamu telah mengajarkan saya pakaian apa yang tidak saya sukai, sehingga kelak saya tidak akan membeli pakaian yang sama". See? Selama ini saya tidak pernah terpikir seperti itu hingga akhirnya saya kesulitan melepaskan barang. Berfikir seolah-olah saya mubadzir jika membuangnya. Setelah memahami cara pandang baru terhadap barang, saya menjadi lebih mudah melepaskannya. Karena barang yang terbeli namun tak terpakai saat ini sejatinya sudah pernah memberi manfaat meski hanya sebagai pengingat bahwa compulsive buying itu sama sekali tidak baik misalnya. Kelak saya menjadi lebih bijak saat membeli pakaian baru. 

Sebagai akhir dari postingan kali ini, saya ingin mengajak kita semua belajar memahami peranan dan perasaan setiap barang. Tidak semua barang harus kita simpan hanya karena kita sayang membuangnya -padahal dengan teganya kita menyimpan ia di laci terdalam lemari-. Bukti kita sayang dengan sebuah barang adalah dengan menempatkannya sebagai barang yang membuat kita bersyukur telah memilikinya. Barang kita rasakan manfaatnya saat kita senang memakainya bukan? Marie said, tidak hanya kita pemiliknya, barang-barang kita niscaya juga akan merasa segar dan jernih sebegitu kita seleai berbenah. They will said happily, "Horayyy I got a new room to breath, I am free!" and of course, you will too.




 

You May Also Like

2 komentar

  1. suka banget buku ini ya mba. kayak diajarin buat rapih dan gak mubazir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuull, seneng banget ada orang yang bener-bener seneng berbenah dan share pengalamannya ke kita kita sehingga brbenah jadi terasa sebagai prosesi menyenangkan

      Hapus